WISDOM

MENGEMBANGKAN KEBIASAAN BAIK

Kebiasaan adalah suatu tingkah laku yang didapatkan dan dipelajari yang kita lakukan bahkan tanpa memikirkannya.

Itu terjadi hampir tanpa sadar. Kita sudah terlalu sering melakukannya sehingga itu menjadi sifat alami kedua. Jika kita mempunyai kebiasaan yang baik, itu mungkin memang bagus. Tetapi kadang-kadang kebiasaan kita sedang mencegah kita untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan, dan mungkin kita tidak menyadarinya.

Suatu penelitian mengatakan bahwa 90 persen dari perilaku kita setiap hari dibangun atas kebiasaan kita. Itu berarti cara kita memperlakukan orang lain, cara kita membelanjakan uang, apa yang kita tonton, apa yang kita dengar—90 persen dari seluruh waktu, kita dipasang pada pilot otomatis. Kita melakukan apa yang telah selalu kita lakukan. Tidak mengherankan kalau kita mau mengubah hidup kita, kita harus mulai dengan serius mengubah kebiasaan kita sehari-hari.

Kita tidak bisa terus melakukan hal-hal yang sama yang telah kita lakukan selama ini sambil mengharapkan hasil yang berbeda.

Tulislah daftar kebiasaan kita. Apakah kita cenderung bersikap negatif dalam pemikiran dan percakapan? Apakah kita suka datang terlambat? Apakah kita selalu tunduk pada kecanduan (makanan, narkoba, seks, dan lainnya)?

IMG_1370-576x1024.jpeg


Pahamilah, kebiasaan itu bisa jadi secara hukum, etis, atau moral tidak salah. Itu bisa jadi suatu tindakan atau sikap yang tampak tidak berbahaya—suatu hal kecil, tetapi jika kita tidak melakukan sesuatu tentang itu, kita bisa hidup bertahun-tahun dengan membuang waktu dan tenaga, dengan menjadi tidak produktif dan tidak menguntungkan. Itu bukanlah yang terbaik dari Tuhan.

Rasul Paulus berkata, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” Pada dasarnya, Paulus sedang berkata, “Aku akan menyingkirkan apapun yang tidak menguntungkan atau tidak produktif dari hidupku Aku tidak akan ada di bawah kendali kebiasaan buruk apapun.”

Kebiasaan kita menjadi bagian dari karakter kita. Jika kita mengijinkan diri kita untuk tidak terorganisir atau selalu terlambat, itu akan membentuk karakter kita yang berantakan dan tidak menghargai waktu kita dan orang lain. Jika kita mengijinkan diri kita untuk cepat marah, maka kita menjadi pribadi yang pemarah.


Langkah pertama menuju perubahan adalah dengan mengidentifikasi apakah yang menarik kita mundur. Identifikasi kebiasaan-kebiasaan buruk apapun dan kemudian buatlah keputusan untuk melakukan sesuatu tentang itu.

Cara sederhana mengubah suatu kebiasaan adalah dengan berhenti memupuk kebiasaan buruk itu dan mulai memupuk kebiasaan-kebiasaan baik.

Kebiasaan buruk memang mudah untuk dikembangkan tetapi sukar untuk hidup dengannya. Memang mudah untuk menyela dan bersikap kasar, dengan mengatakan apapun semau kita, menyindir, memotong pembicaraan, dan sinis. Itu memang mudah, tetapi sukar untuk hidup dalam rumah yang penuh pertikaian dan ketegangan.

Sebaliknya, kebiasaan baik memang sukar dikembangkan, tetapi lebih mudah untuk hidup dengannya. Misalnya, pada mulanya memang sukar untuk menahan lidah kita dan mengabaikan suatu penghinaan saat orang lain mengkritik, mengejek, atau memfitnah. Memang sukar pada awalnya untuk mengendalikan diri dan mengampuni, tetapi sangat menyenangkan untuk hidup bersama dalam rumah yang penuh damai sejahtera dan keharmonisan.


Jika kita mau merasa tidak nyaman sementara waktu untuk membentuk kebiasaan yang baru, kita akan menjadi lebih baik. Rasa sakit itu tidak akan ada selamanya. Nyatanya, sekali kita mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru, rasa sakit itu akan hilang dan kita tidak akan hanya jauh lebih menikmati kehidupan kita, tetapi kita akan hidup pada suatu tingkat yang jauh lebih tinggi. Milikilah tekad dan minta pertolongan Tuhan dalam mematahkan kebiasaan itu. Buatlah suatu keputusan untuk berubah, patuhilah itu, dan kita akan terkejut melihat betapa cepatnya kita mulai membentuk kebiasaan baru itu. Itu akan menjadi lebih mudah setiap hari, sampai titik dimana akhirnya kita akan melakukan hal yang benar secara otomatis, bahkan tanpa memikirkannya lagi.

Jangan tinggal tetap dalam suatu kebiasaan buruk. Buatlah suatu keputusan bahwa kita akan mengembangkan kebiasaan yang baik.

Untuk berubah, kita harus bersikap konsisten. Kita harus melakukannya setiap hari. Kita perlu menerapkan kebijakan “tidak ada pengecualian”. Itu berarti tidak peduli bagaimanapun perasaan kita, tidak peduli seberapa pun besarnya keinginan kita untuk kembali pada cara-cara lama kita, kita akan mematuhi rencana baru kita. Tidak ada pengecualian.

Kunci kedua untuk berubah adalah kita harus mau maju melewati rasa sakit dan ketidaknyamanan pada awal kebiasaan baru kita. Lagipula, jika kita telah melatih tubuh kita dalam suatu cara tertentu tahun demi tahun; tubuh kita pasti memberontak saat kita berusaha untuk menerapkan pola baru. Tetapi jika kita mau mendisiplinkan diri dan bertahan, dalam beberapa bulan, kita bisa membentuk kebiasaan baru dan hidup kita akan lebih berguna.

discipline_by_molotov_arts-d4r7227.jpg

Bagi seorang pelari yang mempersiapkan diri untuk kompetisi, beberapa hari pertama pembentukan tubuh mungkin menyakitkan. Perut terpilin, kaki-kaki terasa sakit, dan godaan untuk menyerah selalu muncul. Sementara ia berlatih untuk pembentukan tubuhnya hari demi hari, ia mampu berlari lebih cepat, lebih cepat, sampai kelelahan dan gangguan berkurang seiring dengan kemajuannya. Dengan kata lain, jika kita mau melampaui beberapa minggu pertama, itu akan menjadi lebih mudah, dan suatu hari nanti kita akan terbebas.

Ingatlah, dalam membentuk suatu kebiasaan baru, selalu paling sukar pada awalnya.

Kita akan tergoda untuk berbalik atau kembali pada kebiasaan lama kita, tetapi kita tidak boleh menyerah.

Alkitab mengatakan untuk menghindar dari godaan, jadi entah itu merupakan godaan seksual atau makanan atau apapun, kunci untuk berhasil sama saja: Kita harus menjauhinya!


Perhatikan cara hidup kita. Mengapa aku sedang melakukan ini? Apakah ini adalah kebiasaan baik? Apakah ini menolongku menjadi orang yang lebih baik? Jika dalam analisis kita, kita menemukan beberapa kebiasaan yang tidak produktif atau menguntungkan, bersikaplah berani untuk membuat perubahan yang akan menolong kita untuk menggantikannya. Pastikanlah bahwa kita sedang tidak mengijinkan apapun selain Tuhan untuk menjadi Tuan kita.

Masalah yang terutama bukan supaya kita mematahkan kebiasaan buruk; kita harus menggantikannya. Jika kita tergoda untuk merasa khawatir, gunakanlah godaan itu sebagai peringatan untuk tinggal dalam hal-hal baik. Firman Tuhan memberitahukan kita “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Jika kita mau mengganti pemikiran penuh kekhawatiran itu dengan pemikiran harapan, iman, dan kemenangan, kita akan melatih kembali pikiran kita. Lakukan setiap hari, dan tidak lama kemudian kita akan membentuk kebiasaan untuk tinggal dalam hal-hal baik, dan kita akan mematahkan kebiasaan lama kita untuk selalu khawatir.

Kunci untuk berhasil adalah menemukan sesuatu yang dapat menggantikan kebiasaan negatif itu.

Cara untuk mengembangkan kebiasaan yang baik adalah melatih hal-hal yang baik.

Kita menjadi orang yang susah mengendalikan diri karena kita melatihnya beberapa kali dalam seminggu. Kita menjadi orang yang tidak sabaran karena kita melatihnya setiap hari dalam perjalanan ke tempat kerja. Pengulanganlah yang membentuk suatu kebiasaan. Itulah yang memasang kita pada pilot otomatis. Jadi kita harus memastikan bahwa kita sedang melatih hal-hal yang benar.

Misalnya kita sedang melatih pengampunan. Kali berikut seseorang menghina atau menyakiti perasaan kita, jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Gunakan kesempatan itu untuk melatih diri kita melepaskan pengampunan. Jika kita adalah orang yang boros, latihlah diri untuk menabung dan menggunakan uang yang ada hanya sesuai kebutuhan bukan keinginan.

Tidak pernah terlambat untuk mulai melakukan hal yang benar. Jika kita mau melakukan bagian kita, Tuhan akan melakukan bagian-Nya. Ia akan mempromosikan kita; Ia akan memberi peningkatan, tetapi lebih dahulu kita harus menjadi seorang yang mengurus dengan baik apa yang kita miliki.

Filipi 2 mengatakan bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita. Itu berarti kita mempunyai semua hal yang baik dalam diri kita, tetapi kita harus melakukan bagian kita untuk menyaksikan hal-hal tersebut diwujudkan dalam kehidupan kita. Kita mempunyai benih dari Yang Mahakuasa. Ia sudah menaruh dalam diri kita kendali diri, disiplin, kebaikan, pengampunan, kesabaran, dan lebih banyak lagi. Karena iman kita kepada-Nya, kualitas-kualitas ini sudah ada dalam diri kita, tetapi terserah kita masing-masing untuk mengerjakannya. Kebaikan tidak muncul begitu saja secara otomatis. Itu dapat terwujud hanya jika kita membuat pilihan-pilihan yang baik. Tidak hanya sekali, tetapi terus menerus, berulang kali.

change-habits.png

Pastikanlah bawha kita sedang melatih hal-hal yang benar. Hentikanlah kebiasaan buruk apapun dalam diri kita dan pupuklah kebiasaan baik kita. Jika kita melakukan ini, kita akan naik lebih tinggi dan Tuhan akan mencurahkan berkat serta kemurahan-Nya ke dalam hidup kita. Jangan biarkan apapun menguasai kita, Singkirkanlah apapun yang menghasilkan buah yang tidak baik dalam kehidupan kita.

Ingatlah, kebiasaan-kebiasaan kita hari ini akan menentukan masa depan kita

Modified from: Joel Osteen “Become a Better You”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s