WISDOM

MENGENDALIKAN PERASAAN

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. | Markus 12:29-30

MEMAHAMI EMOSI KITA

1. Tuhan mau hubungan emosional dengan kita.

Bukan hanya tahu Tuhan itu bla bla bla, tapi kita harus mengenal Tuhan dengan perasaan kita. Tuhan punya perasaan. Dia merasa senang, sedih, marah, benci terhadap dosa, frustasi, dan emosi lainnya. Alasan satu-satunya kenapa kita punya emosi adalah karena kita diciptakan serupa dengan Tuhan.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. | Kejadian 1:26

2. Emosi adalah karunia Tuhan.

Emosi negatif juga memegang peranan dalam hidup kita. Emosilah yang menjadikan kita manusia. Jika tidak punya emosi, kita hanyalah sebuah robot.

whats-your-mood

3. 2 hal ekstrim yang harus dihindari:
  • Emotionalism: Semuanya adalah tentang perasaan. Semua yang kita lakukan berdasarkan emosi kita.
  • Stoicism: Perasaan tidak penting sama sekali. Yang paling penting adalah kepintaran dan intelektual kita.

Kedua tipikal orang ini sering menikahi satu dengan yang lain. Yang satu berpikir yang lain terlalu emosional, sedangkan yang satu berpikir yang lain terlalu tegang dan tidak otentik karena tidak pernah menunjukkan emosi.

Ada orang Kristen yang memutuskan bahwa tidak terlalu penting apa yang kita rasakan, yang terpenting adalah kebenaran firman Tuhan. Mereka tidak mengikuti perasaan mereka. Mereka menganggap emosi tidak terlalu dibutuhkan. Itu tidak benar. Tuhan menciptakan emosi untuk suatu alasan. Dan Dia mau kita menyembah-Nya dengan perasaan. Dia mau kita merasakannya.

Tapi ada juga orang Kristen yang menganggap emosi itu penting. Jadi saat mereka datang beribadah, mereka mau merasakan samudera emosi. Jika tidak merasakan hadirat Tuhan maka itu bukanlah menyembah. Itu juga tidak benar. Banyak yang mencari emosi daripada mencari Tuhan saat menyembah. Itu menjadi penyembahan berhala karena kita mengutamakan emosi dan pengalaman kita.

4. Tuhan memberikan Kitab Mazmur untuk memahami emosi kita.

Semua emosi yang diketahui manusia ada di Kitab Mazmur (yang baik dan yang buruk) dan semua emosi itu dinyatakan di sana. Kitab Mazmur ada untuk mengajarkan kita bahwa tidak apa memiliki emosi yang buruk. Ada Mazmur tentang kemarahan, keluh kesah, kesedihan, argumen dengan Tuhan, dan lainnya. Tidak ada yang salah dengan mengutarakan perasaan-perasaan kita.


KENAPA SAYA HARUS BELAJAR MENGATUR EMOSI KITA

1. KARENA EMOSI SAYA SERINGKALI TIDAK BISA DIPERCAYA

Berapa kali kita berpikir bahwa ini adalah hal benar yang harus saya lakukan tapi ujungnya malah tidak berhasil. Intuisi dan perasaan kita suka salah. Kita salah menilai orang lain.

Kita tidak harus mempercayai apapun yang pikirkan. Kita juga tidak harus menerima semua yang kita rasakan karena tidak semua yang kita rasakan otentik, benar, dan nyata.

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. | Amsal 14:1

Hanya karena kita merasakannya, bukan berarti itu benar.

Emotion-e1374190811197.jpg
2. KARENA SAYA TIDAK MAU DIMANIPULASI

Jika kita tidak mengatur emosi, emosilah yang akan mengatur kita.

Jika kita lebih dituntun oleh perasaan daripada oleh kebenaran atau komitmen kita, kita akan dimanfaatkan orang lain.

Salesman dan pemasang iklan dilatih untuk menggerakkan emosi kita karena jika mereka bisa menangkap perasaan kita, kita akan membeli produk mereka. Warna, musik, tagline, dan lainnya akan berusaha menggerakkan emosi kita. Jika kita memutuskan untuk mengikuti perasaan kita secara impulsif dalam hal membeli barang, kita akan membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan atau inginkan.

Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. | Amsal 25:28

manipulation.jpg

Kota yang roboh temboknya sama seperti kota yang tidak ada pertahanan. Kehidupan lama kita akan kembali mendatangi dan menguasai kita. Bahkan Iblis akan dengan mudah bisa menyerang. Alat favorit Iblis adalah emosi negatif (ketakutan, penyesalan, iri hati, cemburu, kepahitan, kekhawatiran, rasa bersalah, dan lainnya).

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. | 1 Petrus 5:8

Jika kita tidak mengendalikan diri, kita akan ditelan hidup-hidup oleh Iblis.

3. KARENA SAYA MAU MENYENANGKAN TUHAN

Tuhan tidak bisa berkuasa atas hidup kita apabila kita membiarkan emosi mengatur dan menguasai kita.

Jika kita memutuskan segala sesuatu berdasarkan emosi kita, maka kita menjadikan emosi kita sebagai Tuhan kita.

Saat kita menjadikan emosi sebagai yang utama, kita memberhalakan emosi. Kita tidak menempatkan Tuhan di tempat pertama.

Kalau pikiranmu dikuasai oleh tabiat manusia, maka akibatnya kematian. Tetapi kalau pikiranmu dikuasai oleh Roh Allah, maka akibatnya ialah hidup dan kedamaian dengan Allah. Orang yang pikirannya dikuasai oleh tabiat manusia, orang itu bermusuhan dengan Allah; karena orang itu tidak tunduk kepada hukum Allah; dan memang ia tidak dapat tunduk kepada hukum Allah. Orang-orang yang hidup menurut tabiat manusia, tidak dapat menyenangkan Allah. | Roma 8:6-8 (BIS)

4. KARENA SAYA MAU BERHASIL DALAM HIDUP

Kegagalan kita sering terjadi karena kita tidak belajar untuk mengontrol perasan kita. EQ lebih penting daripada IQ. Banyak orang yang tidak punya IQ tinggi berhasil dalam hidup mereka. Karena mereka tahu bagaimana menghadapi perasaan mereka. Saat mereka gagal, mereka tidak membiarkan perasaan menyerah menguasai mereka. Mereka bisa berhubungan baik dengan orang lain.

Tapi ada juga orang yang karena membiarkan hidupnya dikuasai perasaan, mereka malah menyia-nyiakan waktu mereka. Mereka berpikir apa yang harus mereka lakukan hari ini. Perasaan mereka bilang jangan lakukan apa-apa. Akhirnya tidak ada apa-apa yang dicapai.

Jika kita membiarkan perasaan mengatur hidup kita, kita tidak akan pernah mencapai banyak dalam hidup.

Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat. | Amsal 5:23

success.jpg

Ada berapa banyak orang yang tersesat hanya karena pilihan mereka yang tidak dikendalikan. Contohnya sex yang berujung hamil di luar nikah atau emosi sesaat yang membuat dipecat.

Ketika kita memberikan hati kita kepada Kristus, kita juga memberikan emosi kita kepada-Nya. Biar Tuhan yang mengendalikan perasaan kita.

Sehingga dalam menjalani sisa hidup di dunia ini, ia tidak lagi mengikuti keinginan manusia, melainkan kehendak Allah. | 1 Petrus 4:2 (AYT)


BAGAIMANA MENGENDALIKAN PERASAAN YANG TIDAK DIINGINKAN

1. Namakan

Kita tidak bisa mengontrol sesuatu yang kita tidak tahu.

Kita harus mengidentifikasinya. Apa yang kita rasakan? Bisakah kita menamai perasaan itu? Lapar atau lelah bukanlah emosi. Kita suka bingung dengan emosi kita. Kita sulit mengatakan apa yang kita rasakan. Kita merasakan sesuatu tapi kita tidak bisa menamakannya.

Jika kita tidak bisa menamainya, kita tidak bisa menyelesaikannya.

Jadi tanyakan dua pertanyaan ini:

Apa yang benar-benar kita rasakan?

Gali sampai ke permukaan karena apa yang kita rasakan bukanlah perasaan yang sesungguhnya. Kadang kita marah dengan orang rumah karena kita dikritik oleh orang di tempat kerja. Kemarahan kita bukanlah terhadap keluarga kita, tapi terhadap orang di tempat kerja. Kita hanya melampiaskannya.

Apa yang memicunya?

Jika kita tidak bisa membagikan apa emosi kita kepada orang lain, emosi itu akan memakan tubuh kita. Pemicunya bisa terjadi karena penglihatan (melihat ketidakadilan kita bisa marah), penciuman (mencium bau yang kita tidak suka bisa membuat tidak mood), pendengaran (mendengarkan musik rohani bisa membuat tenang), sentuhan (saat sedih dan dipeluk merasakan kekuatan), dan perkataan atau pengecapan (makanan bisa mengingatkan tentang masa kecil).

control-your-emotion.jpg

2. Tantang

Apakah perasaan ini seburuk yang saya bayangkan? Kemungkinan tidak.

Tanyakan beberapa pertanyaan. Tantang emosi itu. Daud sering menanyakan Tuhan apa yang benar-benar dia rasakan. Tuhan tahu apa yang kita rasakan saat kita sendiri tidak tahu apa perasaan itu atau apa yang memicunya?

Selidikilah aku, ya TUHAN, dan ujilah aku, periksalah keinginan dan pikiranku. | Mazmur 26:2 (BIS)

Minta Tuhan mengevaluasi emosi kita. Kemudian minta teman untuk menantang perasaan itu. Adakah orang dalam hidup kita yang bisa menantang emosi kita? Jangan hanya mereka yang mengatakan ‘ya’ saja, tapi yang mempertanyakan “apa kamu yakin?”

Mengapa hatimu menghanyutkan engkau? Dan mengapa matamu menyala-nyala? | Ayub 15:12 (MILT)

Secara tidak langsung, teman Ayub sedang menanyakan Ayub kenapa Ayub begitu marah. Kita butuh teman yang bisa menanyakan kita kenapa kita bisa begitu marah dengan semua ini? Mereka bisa mengoreksi kita. Berikan ijin kepada mereka.

Tuhan tahu apa yang kita rasakan bahkan saat kita tidak megetahuinya. Jadi saat kita berkata kepada Tuhan bahwa kita tidak tahu apa yang kita rasakan, tapi kita membutuhkan Tuhan; itu adalah hal yang baik. Kita sedang mengandalkan Tuhan.

Tanyakan beberapa pertanyaan ini saat menantang emosi kita.

  • Apa alasan sesungguhnya? Mungkin ketakutan atau kebohongan yang selalu dikatakan orang tua kepada kita. Dan saat orang lain menakuti kita atau mengatakan kebohongan yang sama, kita menjadi marah.
  • Apakah yang saya rasakan benar? Ada saatnya Elia mengeluh kepada Tuhan dan berkata bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang melayani Tuhan. Tapi Tuhan malah mengatakan kenapa kamu bertindak seperti kamu saja yang melayani saja? Ada banyak orang lain yang melayani juga.
  • Apakah yang saya rasakan membantu atau menyakiti saya? Apakah yang saya rasakan akan membantu saya mendapatkan apa yang saya inginkan atau malah menjauhkan saya?

Misalnya saat kita sedang berada di restoran dan kita mendapat pelayanan yang sama. Orang lain yang abru datang mendapat makanan mereka terlebih dahulu. Alasan sesungguhnya saya merasakan ini adalah saya lapar. Apakah itu benar? Ya, benar. Pelayanan lama. Tapi apakah dengan marah pada pelayan akan membuat saya mendapatkan yang saya inginkan?

Dalam krisis, polisi dilatih untuk merendahkan suara daripada meninggikan suara. Apakah dengan mengomel, itu akan membantu? Apakah membantu kita saat kita diomelin? Apakah dengan diomelin, kita akan mau berubah? Tidak. Itu hanya akan membuat kita defensif. Jadi saat kita terpancing untuk memperlihatkan emosi kita yang tidak baik, kita mesti memikirkan apakah dengan mengomel itu akan membantu atau tidak.

Emotion-3.jpg

3. UBAH ATAU SALURKAN

Saat kita mau berhasil dalam hidup, kita harus belajar untuk menguasai mood kita. Kita bisa mengubahnya atau menyalurkannya.

Mengubahnya.

Hendaklah kalian berjiwa seperti Yesus Kristus. | Filipi 2:5 (BIS)

Tanyakan ‘what would Jesus do’. Apakah Yesus akan marah? Apakah Yesus akan takut? Apakah Yesus akan iri? Apakah Yesus akan sakit hati? Apakah dengan merespon seperti ini akan membuat kita menjadi seperti Yesus?

Jadi kita menghilangkan perasaan apapun yang tidak seperti Yesus. Tapi terkadang kita bisa menerima perasaan negatif kita dan kita bisa menyalurkannya.

Menyalurkannya.

Kita menyalurkannya untuk hal yang lebih baik. Saat terjadi sesuatu yang tidak adil pada kita, emosi yang akan muncul pertama kali biasanya adalah marah. Apakah kemarahan saya bisa digunakan untuk kebaikan yang membantu orang lain? Bisa. Ketika kita menggunakan kemarahan kita untuk diri kita, itu adalah kemarahan yang egois. Tapi jika kita menggunakan kemarahan kita untuk membantu orang lain, itu adalah kemarahan yang benar.

Marah tidaklah salah. Tapi apa yang kita lakukan terhadap kemarahan itulah yang bisa membuat kita salah.

Misalnya banyak dari kita yang tidak bisa punya anak. Kita bisa saja bersedih hati di dalam kamar dan tidak mau keluar kemana-mana. Tapi kita bisa menyalurkannya dengan membantu anak-anak di dunia yang membutuhkan. Banyak anak yatim piatu atau anak-anak di jalanan yang membutuhkan kasih kita.

Jika kita tidak bisa mengubah emosinya, kita menyalurkannya untuk kebaikan.

Kita mungkin tidak akan pernah berhenti berduka atas kehilangan orang yang kita cintai, tapi emosi itu bisa kita gunakan untuk hal yang lebih baik. Kita bisa menyalurkannya dengan mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan, tekun dan giat di dalam komunitas, melayani sesama, menyaksikan iman, dan banyak hal baik lainnya.

Pelayanan terhebat kita bisa datang dari luka yang paling pahit.


Bagaimana supaya bisa mengendalikan emosi yang liar?

Bukan dengan keinginan dan kekuatan kita, tapi hanya dengan Roh Tuhanlah kita bisa mengendalikannya.

contr.jpg

1. Setiap hari minta Tuhan untuk memenuhi kita dengan Roh-Nya.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. | Galatia 5:22-23

Saat kita membiarkan Roh Kudus memenuhi kita, Dia akan memenuhi kita dengan buah roh. Dia akan mengendalikan kita. Kendali Dialah yang membuat kita bisa mengendalikan emosi kita.

Ketika kita menekan pasta gigi, yang keluar adalah pasta gigi. Ketika hidup kita ditekan, yang akan keluar adalah apa yang ada di dalam kita. Jika kita memenuhi diri kita dengan khawatir, ketakutan, stress, gosip, dan hal-hal buruk lainnya; semua itulah yang akan keluar. Tapi saat kita memenuhi hidup kita dengan Roh Kudus, yang akan keluar adalah kasih, sukacita, damai, dan buah roh lainnya.

Apapun yang terjadi kita akan bisa mengendalikannya saat Roh Kudus yang menguasai kita.

2. Setiap hari minta Tuhan menjaga mulut kita.

Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. | Amsal 13:3

Mulut kita seperti roda kemudi yang mengendalikan hidup kita. Buat firman Tuhan menjadi perkataan kita. Hafalkan, taruh catatan ayat, garisbawahi ayat, dengarkan firman, dan pelajari firman.

Kiranya perkataan mulutku dan renungan hatiku, berkenan di hadapan-Mu, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. | Mazmur 19:14

Ada hubungan antara hati dan mulut kita. Apa yang kita rasakan akan keluar melalui mulut. Jadi setiap hari minta Tuhan berjaga-jaga atas mulut kita supaya apa yang keluar bukan sesuatu yang buruk. Minta hati yang baru. Minta hati yang dipenuhi firman Tuhan bukan dengan kebencian, kesakitan, kemarahan, dan emosi negatif lainnya.


Selidikilah aku, ya TUHAN, dan ujilah aku, periksalah keinginan dan pikiranku. | Mazmur 26:2 (BIS)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s