SUCCESS

PAIN OUTSIDE COMFORT ZONE

Comfort zone can be very tempting. There is no harsh or pain in it. But the truth is, the good come out from pain. Steven Dooey from the Comfort Zone Goodbyes blog enlighten us by sharing Jim Rohn’s quote.

We must all suffer from one of two pains: the pain of discipline or the pain of regret. The difference is discipline weighs ounces while regret weighs tons.

Just think about how we take the pain by exercising and forbearing ourselves from having those delicious cakes or tempting fast foods in order to be healthy and maybe, who knows, six packs. It is painful, true. It needs discipline to go to the gym three or four times a week and be sweaty. It needs discipline to eat healthy food. But if we stay in the comfort zone—eat all we want and do not care about our body, all that diseases will sneak in and just wait for the time until they explode and bring regret.

There are two ways that we can help us stick in to the discipline and kick the regret away.

RETHINK

When deciding something, try to stop and think about the bigger picture. Being impulsive for some people will only lead us to a non-disciplined path. They just want to go or be in the comfort zone. But when we rethink—when we picture ourselves from a different perspective, we will find ourselves outside that comfort zone.

Try to think about the result. The process might seem hard. Sleeping in bed being lazy with all the gadgets is easier than turn on the computer and start to write something or practice on playing piano. But if we think about our goal whether to be able to play piano or become a writer, it gives us motivation to move forward leaving that comfort and take the disciplined act.

REWARDS & CONSEQUENCES

These two things can be very useful in choosing the right action. Set the reward if we reach our goal. Make sure it will push us through those weakness moment. On the contrary, when we break the disciplined routine—punish ourselves, take the consequences.

Steve Dooey had a funny way to punish himself when he strayed out the disciplined path. He would plank himself for a minute. So instead of being discipline, he could also get a solid core.

So, stop making excuses and delaying everything.

The discipline starts now or ends with regret.


comfort-zone1


Zona nyaman bisa sangat menggoda. Tidak ada kesusahan atau sakit di dalamnya. Tapi pada kenyataannya, sakit itu ada baiknya. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Steven Dooey dari blog Comfort Zone Goodbyes membuka pikiran kita dengan perkataan dari Jim Rohn.

Kita semua harus menderita salah satu dari dua rasa sakit: rasa sakit disiplin atau rasa sakit penyesalan. Perbedaannya adalah disiplin hanya seberat ons sedangkan penyeselan seberat ton.

Coba pikirkan bagaimana sakit dan lelahnya kita saat olahraga dan menahan menahan diri dari kue-kue yang nikmat atau makanan-makanan cepat saji yang menggiurkan supaya kita bisa menjadi sehat dan mungkin, siapa tahu saja, memiliki perut six packs. Menyakitkan, memang. Butuh disiplin untuk pergi ke gym tiga sampai empat kali seminggu dan mengeluarkan keringat. Butuh disiplin untuk makan makanan sehat. Tapi jika kita memilih untuk tetap berada dalam zona nyaman—tidak menjaga makan dan tubuh kita, semua penyakit itu akan menyelinap masuk dan hanya tinggal waktu saja sampai mereka mendatangkan masalah dan penyesalan.

Ada dua cara yang dapat membantu kita tetap disiplin dan menendang jauh-jauh penyesalan itu.

PIKIR KEMBALI

Ketika memmutuskan sesuatu, coba berhenti sejenak dan pikirkan gambaran besarnya. Berpikir spontan untuk beberapa orang hanya akan membawa kita ke jalan yang tidak disiplin. Pikiran-pikiran impulsif itu hanya akan membawa kita pergi atau tetap berada pada zona nyaman. Tapi saat kita berpikir kembali—saat kita menggambarkan diri kita dalam perspektif yang berbeda, kita akan menemukan diri kita berada di luar zona nyaman.

Coba pikirkan hasil akhirnya. Prosesnya mungkin terlihat sulit. Tidur bermalas-malasan di kasur sambil bermain gadget lebih mudah daripada menyalakan komputer dan mulai menulis atau melatih diri bermain piano. Tapi ketika kita memikirkan tujuan kita entah mahir bermain piano atau menjadi seorang penulis, kita akan mendapatkan motivasi untuk bergerak meninggalkan kenyamanan kita danmengambil tindakan disiplin .

HADIAH & KONSEKUENSI

Dua hal ini sangat berguna di saat kita sedang memilih untuk mengambil keputusan. Tentukan hadiah apabila kita berhasil mencapai tujuan kita. Pastikan hadiah itu dapat mendorong kita melewati masa-masa kelemahan kita. Sebaliknya, ketika kita melanggar rutinitas disiplin—hukum diri kita, terima konsekuensinya.

Steve Dooey memiliki cara yang lucu untuk menghukum dirinya ketika keluar dari jalur disiplin. Dia akan melakukan plank selama satu menit. Jadi jika tidak disiplin, setidaknya dia masih mendapat core yang kuat.

Jadi, berhenti membuat alasan dan menunda segala sesuatu.

Disiplin dimulai sekarang atau berakhir dengan penyesalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s